Kabar Berita Terbaru Hari Ini Murid SD di Magetan Bikin Video Adegan Hubungan Intim Bak Orang Dewasa - Kabar Berita Terbaru Hari Ini

Breaking

logo

Kabar Berita Terbaru Hari Ini Murid SD di Magetan Bikin Video Adegan Hubungan Intim Bak Orang Dewasa

Kabar Berita Terbaru Hari Ini Murid SD di Magetan Bikin Video Adegan Hubungan Intim Bak Orang Dewasa
loading...

MAGETAN - Dua siswa SD di Magetan, Jawa Timur yang membikin video dewasa saat rumah sedang sepi.

Video mesum yang direkam sendiri oleh salah satu siswa SD ini tersebar di masyarakat Magetan dan Viral di WhatsApp (WA).

Dari aplikasi perpesanan Whatsapp, video mesum berdurasi 1 menit itu pun viral dan menghebohkan warga Magetan.

Saat melakukan adegan dewasa, dua siswa SD tersebut masih mengenakan seragam sekolah.

Video dua siswa SD di Magetan ini beredar sejak tiga hari lalu.

Seolah menganggap sebagai hal yang lucu, ada yang mengedit video tersebut dan menambahkan musik dangdut koplo ke dalam video.

Informasi yang diperoleh, video itu diduga direkam di siswa SD lelaki yang saat rumah itu sepi.

Pelajar itu diketahui telah ditinggal sang ayah merantau sebagai buruh migran ke luar negeri atau tenaga kerja Indonesia ( TKI), sedangkan ibunya, saat video itu direkam, sedang berada di sawah.

Saat ini anak laki laki di video itu masih bersekolah di salah satu SD Negeri di Magetan, sedangkan si pelajar perempuan, kabarnya sudah lulus.

Tanggapan pihak sekolah

Kepala sekolah tempat pelajar itu bersekolah mengatakan bahwa pihak sekolah telah memanggil orangtua dari dua anak yang bersangkutan.

"Sekolah sudah memanggil orangtua siswa bersangkutan, untuk diberikan nasihat dan pengarahan agar siswa tersebut tidak kembali melakukan perbuatan yang sama,"kata kepala sekolah yang namanya sengaja disamarkan oleh redaksi demi melindungi identitas dua pelajar itu.

Kalangan masyarakat di Magetan sangat prihatin dengan beredarnya video mesum yang seharusnya belum waktunya dilakukan oleh sepasang anak SD ini.

Ternyata, korban M mengaku sampai disodomi oleh pelaku.

Perlakuan Slamet terhadapnya itu dilakukan selama kurun waktu 3 bulan pada 2018.

Selain itu, dampak psikologis diakui M kini sedang dirasakannya.

"Slamet memang tidak sama cara memperlakukan pada setiap korbannya. Yang jelas 30 siswa kelas V menjadi korban," kata Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA), Aiptu Sunaryo di Polres Lamongan, Kamis (4/7/2019).

Sejauh ini memang belum ada perkembangan, apakah tersangka pernah melakukan hal serupa pada siswa kelas lain di SD tempatnya mengajar atau tidak.

Awal diperiksa, tersangka semula menyangkal semua apa yang diungkapkan para anak didiknya.

Namun, pada pemeriksaan lanjutan, tersangka mulai mengakui kelakuannya yang tidak bisa ditauladani itu dengan menyatakan hanya sekedar menyentuh alat vital korban.

Pengakuan Slamet itu bertolak belakang dengan semua keterangan korban, termasuk pengakuan dalam surat pernyataan 30 siswa yang jadi korban.

Tersangka yang sudah karunia dua putra dengan istri sahnya ini kini tengah menikmati dalam sel tahanan Polres sejak Kamis (27/6/2019).

Tersangka Slamet saat dikeler di depan awak media mengatakan, apa yang dilakukannya itu karena kekhilafan.

"Tidak sadar," kata Slamet.

Slamet juga menolak dituding 'menodai' 30 siswanya.

"Hanya dua pak, itu yang melaporkan saya. Bukan sebanyak itu," akunya.

Meski begitu, Slamet tegas siap mempertanggungjawabkan perbuatannya. Siap dihukum seberat - beratnya ketika ditanya Kasat Reskrim, AKP Wahyu Norman Hidayat.

Spontan Slamet menyatakan siap menanggungnya. Namun Slamet memastikan apa yang dilakukan itu karena ia tidak ingat.

"Maaf pak, tidak ingat," kata Slamet yang baru 5 tahun sebagai PNS ini.

Pengamat pendidikan kabupaten Magetan, Muhammad Anis, mengatakan bahwa orangtua harus lebih lagi mengawasi anak-anaknya, baik dalam perilaku maupun dalam penggunaan internet dan smartphone.

"Memang ini dilema, karena ada pelajaran tertentu yang memerlukan smart phone seperti Tikom dan pengumuman berkaitan dengan mata pelajaran,"kata Muhammad Anis, Kamis (18/7/2019).

Siswa SD korban pelecehan seksual

Terpisah, warga Lamongan gempar setelah 30 siswa SD Negeri di Sidomlangean, Kecamatan Kedungpring, Lamongan membuat pernyataan tertulis sebagai korban asusila.

Surat pernyataan itu juga menjadi salah satu bukti di antara sekian banyak barang bukti yang memastikan Slamet telah berbuat tidak senonoh.

Bahkan salah satu korban berinisial M, pada Rabu (3/7/2019) kemarin dengan diantar orang tuanya bertandang ke Kantor Balai Wartawan Lamongan juga menceritakan apa yang sebenarnya dilakukan guru kelasnya itu pada korban.

Diduga cabuli 30 siswa

Sebelumnya, oknum guru SD berstatus PNS di Kecamatan Kedungpring Lamongan Jawa Timur diketahui mencabuli sebanyak 30 siswa kelas V SD.

Dia melakukannya pada puluhan korbannya itu pada Oktober 2018.

Semua korban adalah siswa si pelaku, yang mana Slamet sebagai wali kelasnya.

Slamet melampiaskan nafsu bejatnya di ruang perpustakaan dan ruang kelas. Ada saja modus pelaku saat hendak melampiaskan pada para anak didiknya.

Seorang korban berinisial M, mengaku sering mendapat perlakuan tidak senonoh dari pelaku.

"Pak guru sering meraba - raba sejak saya kelas lima," ungkap M.

Tempat yang sering dipakai guru untuk berbuat cabul adalah di dalam kelas, perpustakaan dan di rumahnya.

Paling sering dilakukan pak guru saat jam pelajaran dipanggil diajak ke kelas atau aula perpustakaan. Di tempat itulah pelaku melampiaskan nafsunya.

Modus lain, saat pelaku hendak berbuat cabul, kadang memanggil para korbannya untuk datang ke rumah pelaku dengan alasan mengambil CD dan Laptop untuk materi pembelajaran.

Para korban diancam akan diberi nilai jelek, jika sampai menceritakan apa yang telah dilakukannya.

Ada seorang korban yang dari hasil visumnya sudah mengalami kerusakan cukup parah ( maaf selaput daranya rusak akibat jari tangan nakal pelaku, red).

Perilaku yang tidak bisa dibuat panutan itu tidak hanya pada korban siswa perempuan, tapi juga pada siswa laki - lakinya, hanya polanya yang berbeda.

Sejumlah siswa berani menceritakan apa yang diperbuat gurunya itu, ketika Slamet lama tidak mengajar karena mengikuti ujian sertifikasi.

Akhirnya sejumlah orang tua korban melaporkan ke polisi.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Lamongan, Wahyu Norman Hidayat mengatakan, sudah mengamankan guru cabul tersebut.

"Kasus ini sudah masuk penyidikan dan kami sudah memintai keterangan 9 korban anak dibawah umur," kata Norman kepada Surya.co.id, Rabu (3/7/2019).

Korban sudah ditahan sejak Kamis atau terhitung tujuh hari ini.

"Barang bukti cukup dan ada korban.

Pelaku dijerat Pasal 82 ayat 2 tentang perlindungan anak dengan ancaman maksimal 15 tahun kurungan penjara," katanya.

Iming-iming Permen dan Uang Rp 2.000

Sebelumnya, seorang guru agama berinisial HL, mencabuli delapan siswi SDN 08 Ujan Mas, Desa Guci, Kecamatan Ujan, Sumatera Selatan, dengan iming-imingi uang Rp 2.000 hingga Rp 20.000.

Awalnya korban diajak menonton video dari telepon selular pelaku dan kemudian memberikan uang sebesar Rp 2.000 sampai Rp 20.000, serta permen kepada para siswi.

Dari laporan korban ternyata perbuatan oknum guru sudah dilakukan sejak April.

“Setelah korban terpengaruh korban lalu dipangku sembari mengarahkan tangannya ke daerah-daerah yang ada pada tubuh korban,” ujar Wakapolres Muara Enim Kompol Ary Sudrajat, Jumat (28/6/2019).

Kasus dugaan pencabulan terbongkar setelah salah satu siswi sekolah tersebut menceritakan perbuatan oknum guru tersebut ke orangtuanya.

Awalnya salah satu orangtua siswi hendak pergi ke Jakarta.

Namun, siswi tersebut teryata tidak mau ditinggal dan menyatakan takut ke sekolah karena sering dipegang-pegang oleh salah satu gurunya.

Mendengar pengakuan anaknya, orangtua murid itu lalu menemui sejumlah orangtua murid lainnya dan menceritakan kejadian yang menimpa anaknya.

Orangtua siswi lain lalu menanyakan ke anak mereka.

Ternyata, yang sudah menjadi korban sebanyak delapan orang.

Segera saja perbuatan oknum guru itu dilaporkan ke kepala desa setempat untuk ditindak lanjuti.

Wiwana, salah satu orangtua murid mengatakan sangat menyesali perbuatan oknum guru tersebut.

Yang lebih membuat Wiwiana kesal, saat mereka melapor ke pihak sekolah, pihak sekolah terkesan menganggap sepele dan menyarankan berdamai saja.

Segera saja Wiwiana dan orangtua lain melaporkan oknum guru tersebut ke Polsek Gunung Megang.

Wiwiana minta agar pelaku dihukum berat dan diberhentikan dari status ASN.

Kepala sekolah SD Negeri 08 Ujan Mas Dwi Kawa Prihatin yang dikonfrimasi membenarkan adanya laporan dugaan pencabulan itu.

Dwi Kawa mengatakan, saat diperiksa, pelaku mengaku melakukan tindakan itu di ruang belajar saat jam istirahat dengan cara menyuruh siswa laki-laki keluar ruangan.

Sedangkan siswa perempuan yang cantik tinggal di dalam kelas.

Setelah siswa laki-laki sudah keluar kelas, HL mencabuli siswinya dengan cara memangku siswi tersebut dan meraba-raba bagian tubuhnya.

Kasus oknum guru itu juga sudah dilaporkan ke pengawas Dinas Pendidikan Muara Enim.

"Sebelumnya siswi-siswi diajak nonton video dari telepon selular pelaku,” katanya.

loading...
Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source. If there is a problem with this matter, you can contact